KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??
Hari Jumat adalah hari yang istimewa bagi umat muslim dan
pada saat itu pula saya memutuskan untuk berikrar bahwa saya dengan ikhlas
mengizinkan diri saya untuk menjadi seorang penulis. Selang beberapa saat
setelah saya memposting dokumentasi ikrar
saya di salah satu sosial media, maka salah seorang teman saya langsung
menghubungi saya dan melontarkan pertanyaan seperti ini “kamu mau jadi penulis?
kamu mau buat buku? jadi penulis kan tidak mudah?”, ini orang sekali bertanya
langsung 3 pertanyaan, seandainya dia ngajuin 10 pertanyaan saya pasti anggap
dia penyidik KPK he he he. Tapi saya tidak mau kalah, dengan spontan saya
langsung jawab “skripsi aja saya bisa buat sendiri, masa buku tidak bisa” he he
he.
Jujur saja skripsi saya itu murni buatan saya sendiri,
bukan hasil copy paste seperti yang biasa dilakukan sama teman-teman
mahasiswa zaman sekarang. Saya yakin anda tidak termasuk kategori mahasiswa
yang saya maksud he he. Tapi yang menarik dari kisah tentang skripsi saya itu
adalah saya buatnya karena terjebak, yah boleh dikatakan terpaksa lah saya
buat. Iya saya terpaksa karena memang awalnya saya punya niat untuk
“meng-copas” skripsi yang sudah jadi juga, tapi ternyata setelah judul saya
diterima oleh ketua jurusan ternyata skripsi yang saya akan copas tadi
tidak ada alias hilang. Mungkin inilah yang dinamakan “The Power Of Kepepet”,
saya terpaksa mengerjakannya karena judul sudah terlanjur diterima. Tapi ada
baiknya juga karena saya dipaksa berpikir dan bergerak untuk menyelesaikan
skripsi saya. Dan akhirnya saya selesai juga, dengan menyandang gelar sarjana
ekonomi.
Kisah di atas bukan point utama dalam tulisan saya kali
ini, namun gara-gara jawaban spontan saya tadi itu justru membuat saya makin
semangat untuk membuktikan bahwa saya juga bisa jadi penulis dan menerbitkan
buku. Awalnya saya terinspirasi oleh mas Ippho Santosa yang mampu menulis
beberapa buku dan semuanya berhasil menjadi best seller bahkan bukunya
yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki” menjadi mega best seller. Dalam hati
saya berkata “wah..mantap juga kayaknya nih kalau saya jadi penulis, bisa
terkenal seperti mas Ippho Santosa”. Kalau kita melihat dari sudut pandang yang
lebih luas, maka perlu kita ketahui bahwa ketrampilan menulis merupakan indikasi
kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar. Menulis merupakan media atau wadah
untuk mencatat/merekam sebuah peristiwa bersejarah dan memberikan sebuah
informasi yang dapat mempengaruhi terwujudnya cita-cita
bangsa.
Ali bin Abi Tahlib pernah berpesan “Kalau kamu bukan
anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Inilah salah
satu dasar yang membuat saya semakin termotivasi untuk menjadi penulis,
meskipun bagi saya menulis adalah bukan hal yang baru. Iya soalnya dari SD
sampai kuliah dulu sering banget menulis, iya menulis tugas-tugas dari guru dan
dosen he he he. Seorang penulis tenaganya bersumber dari motivasi
yang kuat, dari niatan yang tulus sehingga akan terus menerus memberikan energi kepada para pembacanya. Berikut saya akan menjelaskan 3 alasan utama kenapa saya dan
anda harus menulis :
1.
Menulis Itu Membuat Kerang Pahala
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
(HR. Muslim no. 1631). Hadits tersebut menjelaskan
bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah ketika kita sudah
meninggalkan dunia ini. Ilmu yang bermanfaat itu seperti apa? pokoknya semua
ilmu yang bermanfaat tentu saja dalam hal positif maka dia akan menjadi amal
jariyah buat kita. Kalau boleh meminjam istilahnya Robert
Kiyosaki dalam bukunya “Cashflow
Quadrant” maka ilmu yang bermanfaaat ini ibarat passive
income. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk
dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Secara pribadi ini adalah alasan yang
paling mendorong saya untuk
menjadi penulis.
Karena saya menyadari bahwa jatah usia kita di dunia amatlah
singkat. Perlu upaya yang ‘cerdas’ agar dengan jatah usia yang singkat dan terbatas alias limited ini
dapat memberikan kontribusi yang bermakna, karena yang unlimited hanyalah kuota internet saja he he he. Nabi
pun berpesan : dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam
bersabda : Orang beriman itu bersikap
ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan
sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR.
Thabrani dan Daruquthni). Jadi jika ingin membuat “Kerang Pahala” untuk bekal akhirat kita, maka saya
mengajak anda untuk ikut menulis mulai
hari ini, iya hari ini, tanpa tunggu tanpa nanti titik.
2. Menulis Berarti Belajar Dan
Membagi Ilmu Dengan Orang Lain
Semasa SD saya dan pastinya anda juga pernah
mendapat tugas untuk mengarang oleh guru.
Saya sangat senang jika disuruh mengarang oleh guru, karena mengarang bagi saya adalah salah satu cara untuk belajar. Banyak hal yang kita pelajari atau alami menjadi
lebih kuat melekat dalam ingatan karena kita tuangkan dan mengolah menjadi tulisan. Pada saat kita menulis, berbagai ide dan gagasan
yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami oleh orang lain dengan baik. Proses penyusunan ide-ide
itu akan membawa kita pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi
terhadap ide-ide tersebut. Lalu kita harus belajar menyusun argumentasi
untuk menopang ide kita tadi agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang
sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri kita sebagai pengarang itu sendiri. Untuk
menyelesaikan sebuah tulisan baru maka kita harus memiliki banyak
pengetahuan-pengetahuan baru pula terkait dengan tulisan yang akan kita buat.
Dengan sendirinya maka kita akan dipaksa untuk selalu belajar, belajar dan
belajar untuk menambah pengetahuan kita yang tentunya akan menunjang dalam
penulisan kita.
Di
dalam Al Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 : Wahai
Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “Luaskanlah tempat
duduk “di dalam Majelis-majelis maka luaskanlah (untuk orang lain), Maka Allah
SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka
berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang
yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian
kerjakan". Saya sering
dinasehati oleh orang tua saya untuk sering-sering berbagi kepada orang lain
karena itu adalah sedekah bagi kita. Mungkin anda sering berbagi kepada teman,
kerabat atau tetangga anda. Namun
umumnya yang kita berikan masih berupa makanan, uang atau yang sifatnya materi.
Ternyata saya baru tahu bahwa berbagi ilmu itu merupakan amal jariyah yang
tidak akan terputus meskipun kita telah meninggal dunia. Nah, kalau begitu
alangkah ruginya jika semasa hidup kita tidak membagi ilmu kita kepada orang
lain. Bayangkan saja kalau anda menerbitkan buku lalu buku tersebut dibaca oleh
seribu orang misalnya, dari seribu orang tersebut ada 10% yang terinspirasi dan
berubah karena tulisan anda, berarti ada seratus sumber atau "kerang pahala"
untuk anda. Subhanallah. Oleh karena itu maka wajarlah kalau kita harus menulis
dalam rangka berbagi ilmu dan menebar manfaat kepada orang lain. Sekali lagi saya mengajak anda untuk
menjadi penulis. Masa kita kalah sama anak TK yang belajar menulis he he he.
3.
Menulis Mampu Merubah
Dunia Dan Meninggalkan Jejak Bagi Orang-Orang Yang Kita Cintai
Kita
semua tahu bahwa belajar adalah sesuatu yang utama
dalam Islam. Segala sesuatu yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan
sendirinya menjadi utama pula. Menulis bisa membantu memberikan suatu
kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Beberapa tokoh besar yang pernah menulis
bahkan mampu merubah dunia dengan tulisannya itu. Sebut saja Ibnu Sina
yang dengan tulisan-tulisan tentang ilmu kedokterannya mampu merubah dunia
kedokteran ke arah peradaban yang lebih bersinar. Tokoh muda saat ini Ippho
Santosa yang mampu merubah mindset ratusan ribu bahkan jutaan orang
melalui buku-bukunya yang sangat khas dengan otak kanan. Tidak inginkah
kita juga merubah dunia ke arah peradaban yang lebih baik melalui
tulisan-tulisan kita ? Mungkin dalam hati anda berkata,” wah bagaimana mau
merubah dunia, merubah lingkungan daerah tempat tinggal saya saja sulit” maka
saya pastikan anda adalah golongan otak kiri. Jangan tersinggung ya, daripada
tersinggung lebih baik berubah, begitulah kata guru saya Ippho Santosa.
Tidak
ada cara yang lebih berkesan untuk menyatakan eksistensi kita selain dengan
menulis. Dengan menulis kita dapat sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan yang paling penting meninggalkan jejak keberadaan kita untuk masa yang tak terhingga.
Karenanya tidak salah kalau orang bilang, pena penulis bisa lebih tajam dari
pedang para pejuang. Dan benar apa kata Gadamer, filsuf Jerman paling
berpengaruh di abad ini: Tulisan adalah entitas yang hidup. Membaca tulisan
sama dengan berdialog. Betapa bahagianya orang-orang yang kita cintai ketika
kita meninggalkan mereka dengan “label positif”, kita akan terus dikenang, nama
kita akan terus diingat, dan amal kita akan terus mengalir.
Sebagai
kesimpulan dari tulisan saya kali ini, saya ingin mengajak para pembaca yang
budiman untuk ikut menulis agar bisa menginspirasi dan menebar manfaat kepada
lebih banyak orang. Saya tertarik dengan kutipan seorang Guru Besar yang
mengatakan bahwa : Siapa yang membaca
akan mengetahui, dan siapa yang menulis tidak akan mati (Abu Hanifa).
AYO MENULIS!!
Subhanallah...
BalasHapusPostingan pertama di blog pertama yang sungguh mengesankan. Heheh...
Penggunaan bahasa dan cara penyampaiannya sangat bagus, Mas. Terlihat sekali kalau Mas Zul ini sering baca buku. Jadi bisa merangkai kata dengan baik. Hihihii..
Semoga bisa secepatnya menerbitkan buku, Mas. Aamiin....
Kutunggu bukumu, ya. :D
Setelah membaca tulisan ini, aku juga jadi ikut termotivasi untuk menulis dengan lebih serius. Jika sebelum aku hanya menulis iseng-iseng di blogku, Insha Allah selanjutnya aku akan menulis postingan yang lebih bermanfaat dan bisa menerbitkan buku juga. Hehhe Aamin ^,^
Ayo menulis mba Nurliana, ajak teman2nya yg lain untuk membaca tulisan saya ini. Kalau teman mba terinspirasi untuk menulis kan mba juga yang dapat amal jariyahnya selamatulisannya itu bermanfaat.
HapusTerima kasih ya doanya, semoga buku saya bisa terbit sesuai target. Aamiin:)
Gooood....
BalasHapusKunjungi juga yaaa. Blognyavitrijalee.blogspot.com
Maaf,sy ga "dong" arti kerang pahala...
BalasHapusBtw,tulisannya cukup m'inspirasi sy..
Maaf,sy ga "dong" arti kerang pahala...
BalasHapusBtw,tulisannya cukup m'inspirasi sy..
Kerang Pahala itu adalah perumpamaan yang saya pakai untuk Amal Jariyah. Yang namanya kerang kan kalau kita putar maka pasti airnya mengalir terus, maksud saya adalah kalau anda menulis dan tulisan anda bermanfaat & menginspirasi banyak orang maka pahalanya akan mengalir terus ke rekening anda. Dengan kata lain itu akan menjadi amal jariyah alias KERANG PAHALA buat anda.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusHoooo...maksudnya "kran" ⛽
HapusTulisan yg mngandung motivasi u/ tetap semangat dalam mengembangkan karya lewat tulisan.
BalasHapusmngembangkan bakat lewat tulisan.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHooooo....maksudnya "kran" ⛽..
BalasHapus