Minggu, 09 Agustus 2015

KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??



KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??

Hari Jumat adalah hari yang istimewa bagi umat muslim dan pada saat itu pula saya memutuskan untuk berikrar bahwa saya dengan ikhlas mengizinkan diri saya untuk menjadi seorang penulis. Selang beberapa saat setelah saya memposting dokumentasi  ikrar saya di salah satu sosial media, maka salah seorang teman saya langsung menghubungi saya dan melontarkan pertanyaan seperti ini “kamu mau jadi penulis? kamu mau buat buku? jadi penulis kan tidak mudah?”, ini orang sekali bertanya langsung 3 pertanyaan, seandainya dia ngajuin 10 pertanyaan saya pasti anggap dia penyidik KPK he he he. Tapi saya tidak mau kalah, dengan spontan saya langsung jawab “skripsi aja saya bisa buat sendiri, masa buku tidak bisa” he he he. 

Jujur saja skripsi saya itu murni buatan saya sendiri, bukan hasil copy paste seperti yang biasa dilakukan sama teman-teman mahasiswa zaman sekarang. Saya yakin anda tidak termasuk kategori mahasiswa yang saya maksud he he. Tapi yang menarik dari kisah tentang skripsi saya itu adalah saya buatnya karena terjebak, yah boleh dikatakan terpaksa lah saya buat. Iya saya terpaksa karena memang awalnya saya punya niat untuk “meng-copas” skripsi yang sudah jadi juga, tapi ternyata setelah judul saya diterima oleh ketua jurusan ternyata skripsi yang saya akan copas tadi tidak ada alias hilang. Mungkin inilah yang dinamakan “The Power Of Kepepet”, saya terpaksa mengerjakannya karena judul sudah terlanjur diterima. Tapi ada baiknya juga karena saya dipaksa berpikir dan bergerak untuk menyelesaikan skripsi saya. Dan akhirnya saya selesai juga, dengan menyandang gelar sarjana ekonomi. 

Kisah di atas bukan point utama dalam tulisan saya kali ini, namun gara-gara jawaban spontan saya tadi itu justru membuat saya makin semangat untuk membuktikan bahwa saya juga bisa jadi penulis dan menerbitkan buku. Awalnya saya terinspirasi oleh mas Ippho Santosa yang mampu menulis beberapa buku dan semuanya berhasil menjadi best seller bahkan bukunya yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki” menjadi mega best seller. Dalam hati saya berkata “wah..mantap juga kayaknya nih kalau saya jadi penulis, bisa terkenal seperti mas Ippho Santosa”. Kalau kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, maka perlu kita ketahui  bahwa ketrampilan menulis merupakan indikasi kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar.  Menulis merupakan media atau wadah untuk mencatat/merekam sebuah peristiwa bersejarah dan memberikan sebuah informasi yang dapat mempengaruhi terwujudnya cita-cita bangsa.

Ali bin Abi Tahlib pernah berpesanKalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Inilah salah satu dasar yang membuat saya semakin termotivasi untuk menjadi penulis, meskipun bagi saya menulis adalah bukan hal yang baru. Iya soalnya dari SD sampai kuliah dulu sering banget menulis, iya menulis tugas-tugas dari guru dan dosen he he he. Seorang penulis tenaganya bersumber dari motivasi yang kuat, dari niatan yang tulus sehingga akan terus menerus memberikan energi kepada para pembacanya. Berikut saya akan menjelaskan 3 alasan utama kenapa saya dan anda harus menulis :


1.      Menulis Itu Membuat Kerang Pahala

 “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631). Hadits tersebut menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah ketika kita sudah meninggalkan dunia ini. Ilmu yang bermanfaat itu seperti apa? pokoknya semua ilmu yang bermanfaat tentu saja dalam hal positif maka dia akan menjadi amal jariyah buat kita. Kalau boleh meminjam istilahnya Robert Kiyosaki dalam bukunya “Cashflow Quadrant” maka ilmu yang bermanfaaat ini ibarat passive income. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Secara pribadi ini adalah alasan yang paling mendorong saya untuk menjadi penulis.

Karena saya menyadari bahwa jatah usia kita di dunia amatlah singkat. Perlu upaya yang ‘cerdas’ agar dengan jatah usia yang singkat dan terbatas alias limited ini dapat memberikan kontribusi yang bermakna, karena yang unlimited hanyalah kuota internet saja he he he. Nabi pun berpesan : dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda : Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Jadi jika ingin membuat “Kerang Pahala” untuk bekal akhirat kita, maka saya mengajak anda untuk ikut  menulis mulai hari ini, iya hari ini, tanpa tunggu tanpa nanti titik.


2.      Menulis Berarti Belajar Dan Membagi Ilmu Dengan Orang Lain
Semasa SD saya dan pastinya anda juga pernah mendapat tugas untuk mengarang oleh guru.  Saya sangat senang jika disuruh mengarang oleh guru, karena mengarang bagi saya adalah salah satu cara untuk belajar. Banyak hal yang kita pelajari atau alami menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena kita tuangkan dan mengolah menjadi tulisan. Pada saat kita menulis, berbagai ide dan gagasan yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami oleh orang lain dengan baik. Proses penyusunan ide-ide itu akan membawa kita pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi terhadap ide-ide tersebut.  Lalu kita harus belajar menyusun argumentasi untuk menopang ide kita tadi agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri kita sebagai pengarang itu sendiri. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan baru maka kita harus memiliki banyak pengetahuan-pengetahuan baru pula terkait dengan tulisan yang akan kita buat. Dengan sendirinya maka kita akan dipaksa untuk selalu belajar, belajar dan belajar untuk menambah pengetahuan kita yang tentunya akan menunjang dalam penulisan kita.      
Di dalam Al Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 : Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “Luaskanlah tempat duduk “di dalam Majelis-majelis maka luaskanlah (untuk orang lain), Maka Allah SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan". Saya sering dinasehati oleh orang tua saya untuk sering-sering berbagi kepada orang lain karena itu adalah sedekah bagi kita. Mungkin anda sering berbagi kepada teman, kerabat atau  tetangga anda. Namun umumnya yang kita berikan masih berupa makanan, uang atau yang sifatnya materi. Ternyata saya baru tahu bahwa berbagi ilmu itu merupakan amal jariyah yang tidak akan terputus meskipun kita telah meninggal dunia. Nah, kalau begitu alangkah ruginya jika semasa hidup kita tidak membagi ilmu kita kepada orang lain. Bayangkan saja kalau anda menerbitkan buku lalu buku tersebut dibaca oleh seribu orang misalnya, dari seribu orang tersebut ada 10% yang terinspirasi dan berubah karena tulisan anda, berarti ada seratus sumber atau "kerang pahala" untuk anda. Subhanallah. Oleh karena itu maka wajarlah kalau kita harus menulis dalam rangka berbagi ilmu dan menebar manfaat kepada orang lain.  Sekali lagi saya mengajak anda untuk menjadi penulis. Masa kita kalah sama anak TK yang belajar menulis he he he.  

3.     Menulis Mampu Merubah Dunia Dan Meninggalkan Jejak Bagi Orang-Orang Yang Kita Cintai
Kita semua tahu bahwa belajar adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Segala sesuatu yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan sendirinya menjadi utama pula. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Beberapa tokoh besar yang pernah menulis bahkan mampu merubah dunia dengan tulisannya itu. Sebut saja Ibnu Sina yang dengan tulisan-tulisan tentang ilmu kedokterannya mampu merubah dunia kedokteran ke arah peradaban yang lebih bersinar. Tokoh muda saat ini Ippho Santosa yang mampu merubah mindset ratusan ribu bahkan jutaan orang melalui buku-bukunya yang sangat khas dengan otak kanan. Tidak inginkah kita juga merubah dunia ke arah peradaban yang lebih baik melalui tulisan-tulisan kita ? Mungkin dalam hati anda berkata,” wah bagaimana mau merubah dunia, merubah lingkungan daerah tempat tinggal saya saja sulit” maka saya pastikan anda adalah golongan otak kiri. Jangan tersinggung ya, daripada tersinggung lebih baik berubah, begitulah kata guru saya Ippho Santosa.    
Tidak ada cara yang lebih berkesan untuk menyatakan eksistensi kita selain dengan menulis. Dengan menulis kita dapat sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan yang paling penting meninggalkan jejak keberadaan kita untuk masa yang tak terhingga. Karenanya tidak salah kalau orang bilang, pena penulis bisa lebih tajam dari pedang para pejuang. Dan benar apa kata Gadamer, filsuf Jerman paling berpengaruh di abad ini: Tulisan adalah entitas yang hidup. Membaca tulisan sama dengan berdialog. Betapa bahagianya orang-orang yang kita cintai ketika kita meninggalkan mereka dengan “label positif”, kita akan terus dikenang, nama kita akan terus diingat, dan amal kita akan terus mengalir.
Sebagai kesimpulan dari tulisan saya kali ini, saya ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk ikut menulis agar bisa menginspirasi dan menebar manfaat kepada lebih banyak orang. Saya tertarik dengan kutipan seorang Guru Besar yang mengatakan bahwa : Siapa yang membaca akan mengetahui, dan siapa yang menulis tidak akan mati (Abu Hanifa).
AYO MENULIS!!

11 komentar:

  1. Subhanallah...
    Postingan pertama di blog pertama yang sungguh mengesankan. Heheh...
    Penggunaan bahasa dan cara penyampaiannya sangat bagus, Mas. Terlihat sekali kalau Mas Zul ini sering baca buku. Jadi bisa merangkai kata dengan baik. Hihihii..
    Semoga bisa secepatnya menerbitkan buku, Mas. Aamiin....
    Kutunggu bukumu, ya. :D

    Setelah membaca tulisan ini, aku juga jadi ikut termotivasi untuk menulis dengan lebih serius. Jika sebelum aku hanya menulis iseng-iseng di blogku, Insha Allah selanjutnya aku akan menulis postingan yang lebih bermanfaat dan bisa menerbitkan buku juga. Hehhe Aamin ^,^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo menulis mba Nurliana, ajak teman2nya yg lain untuk membaca tulisan saya ini. Kalau teman mba terinspirasi untuk menulis kan mba juga yang dapat amal jariyahnya selamatulisannya itu bermanfaat.

      Terima kasih ya doanya, semoga buku saya bisa terbit sesuai target. Aamiin:)

      Hapus
  2. Gooood....

    Kunjungi juga yaaa. Blognyavitrijalee.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Maaf,sy ga "dong" arti kerang pahala...
    Btw,tulisannya cukup m'inspirasi sy..

    BalasHapus
  4. Maaf,sy ga "dong" arti kerang pahala...
    Btw,tulisannya cukup m'inspirasi sy..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerang Pahala itu adalah perumpamaan yang saya pakai untuk Amal Jariyah. Yang namanya kerang kan kalau kita putar maka pasti airnya mengalir terus, maksud saya adalah kalau anda menulis dan tulisan anda bermanfaat & menginspirasi banyak orang maka pahalanya akan mengalir terus ke rekening anda. Dengan kata lain itu akan menjadi amal jariyah alias KERANG PAHALA buat anda.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Hoooo...maksudnya "kran" ⛽

      Hapus
  5. Tulisan yg mngandung motivasi u/ tetap semangat dalam mengembangkan karya lewat tulisan.
    mngembangkan bakat lewat tulisan.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Hooooo....maksudnya "kran" ⛽..

    BalasHapus