Sabtu, 22 Agustus 2015

Real Madrid vs Real MASJID



Real Madrid vs Real MASJID

Real Madrid.. Real Madrid.. Siapa yang tidak kenal dengan Real Madrid ?? Salah satu raksasa klub sepak bola dunia yang bermarkas di kota Madrid, Spanyol ini memang sedang bersinar pada dua dekade terakhir ini. Bahkan ada yang ekstrim sampai-sampai memberikan label “kampungan” kepada orang yang tidak mengenal klub setenar Real Madrid, tapi bukan saya kok orangnya he he he. Klub yang  bertabur bintang ini mengklaim memiliki fans kurang lebih 450 juta orang yang tersebar di 186 negara, sebuah jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran sebuah fans club


Wajar saja kalau para pemain bintang berlomba-lomba untuk bermain di klub yang akrab dengan julukan Los Merengues, Los Blancos dan Los Galacticos ini. Nama-nama tenar seperti Raul Gonzales, Luis Figo, Zinedane Zidane, Ronaldo Luis Nazario, Roberto Carlos, David Beckham,  Mesut Ozil, Toni Kroos sampai Gareth Bale yang nota benenya pemain termahal dunia merupakan deretan nama yang pernah bermain dan masih bermain sampai saat ini. Christiano Ronaldo yang mendapat predikat pemain terbaik dunia tahun 2008, 2013 dan 2014 ini menjadi icon bagi klub dengan sarat prestasi tersebut


Tidak keliru jika FIFA menempatkannya sebagai klub paling sukses sepanjang abad ke-20, dengan 31 gelar Primera Liga Spanyol, 16 Piala Spanyol, 9 gelar Piala dan Liga Champions, dan 2 trofi Piala UEFA. Inilah yang membuat beberapa klub menjadi ciut ketika ingin berhadapan dengan Real Madrid. Tapi tidak bagi klub Barcelona yang menjadi rival abadi dari klub Real Madrid. Kenapa saya katakan begitu, ya maklumlah saya kan fans Barcelona he he he.  


Cukup..cukup, kita tinggalkan pembahasan tentang Real Madrid, soalnya saya takut anda juga akan ikut jadi fansnya he he. Eh ngomong-ngomong soal fans club, ini menjadi fenomena baru pada abad ini khususnya di kalangan anak muda. Tidak hanya klub sepak bola yang memiliki fans club, namun aktris, penyanyi, tokoh-tokoh bangsa pun memiliki basis fans club. Mengidolakan seseorang itu tidak salah, namun sikap fanatisme yang berlebihan itu yang tidak baik. Tidak jarang kita melihat anak muda yang sampai terjun ke hal-hal yang negatif akibat mengidolakan figur atau sosok yang salah. 


Mengidolakan sosok figur ini cenderung membawa kita untuk mengikuti semua hal yang dilakukan oleh sosok figur tersebut. Tidak peduli yang dilakukannya idolanya itu baik atau buruk, karena kita seolah-olah “disihir” oleh sosoknya. Ingat, bahwa yang kita idolakan itu adalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan, maka sungguh tak pantas jika kita harus bersikap fanatisme ke mereka. Kalau anda mau mengidolakan sosok figur, maka hanya baginda Rosul Muhammad SAW. lah yang pantas untuk kita idolakan.   


Rosulullah adalah tokoh central paling berpengaruh sepanjang sejarah perkembangan peradaban manusia. Beliau adalah sang revolusioner yang mampu mengangkat umat manusia dari zaman jahiliyah ke zaman humanis. Adakah yang lebih layak kita idolakan selain Baginda Rosul Muhammad SAW ?? Beliau memiliki rekam jejak yang sangat istimewa, semua lini dalam kehidupan beliau sangat layak kita tiru. Tercatat bahwa beliau adalah ahli ibadah, ahli dalam berdagang, ahli dalam urusan diplomasi, piawai dalam strategi perang dan dalam membina rumah tangga beliaulah sosok teladan bagi kita semua. Maka tak salah kalau beliau menyandang predikat Rahmatan Lil Aalamiin sebagai predikat tertinggi di dalam sejarah kehidupan manusia.


Tenang..tenang.. saya tidak akan membahas biografi Baginda Rosul kali ini, karena saya bukan ahli sejarah Islam he he. Namun bolehkah saya jujur kepada anda semua, kali ini saya sedang dilanda badai galau, resah dan gundah. Ciee so sweet banget, hehe.. Tapi ini serius loh, lebih tepatnya saya miris melihat fenomena yang terjadi di kalangan anak muda saat ini. Apa itu ?? Saat ini anak muda lebih suka nonton bareng daripada sholat bareng (berjamaah), anak muda lebih suka nongkrong berjam-jam di cafe daripada nongkrong di masjid bermajelis. Kalau kata bang Haji Rhoma Irama “sungguh terlalu”.


Kali ini saya ingin bertanya kepada anda, jawab yang jujur ya.. “apakah anda sering ke mall berbelanja dan mendapat voucher belanja ??” Jika iya maka dugaan saya benar. Iya benar, bahwa anda itu memang tukang belanja he he. Berapa kali anda ke mall dalam seminggu ? Sudah berapa jumlah uang yang anda keluarkan di mall ?? Cukup, tidak usah dijawab deh. Saya cuma ingin katakan, kembalilah ke jalan yang benar saat ini juga!! Sudahlah jangan tersinggung ya, mending lanjutkan membaca.   


Coba kita bandingkan, berapa jam waktu yang kita habiskan setiap kita ke mall ?? 2 jam kah, 3 jam kah atau bahkan lebih. Lalu berapa jam waktu yang kita habiskan setiap kita ke masjid ?? tidak sampai 1 jam atau bahkan tidak sampai setengah jam, sungguh miris!! Mall yang jauh di sana kita bela-belain untuk datangi, masjid di belakang rumah kita terasa berat untuk melangkahkan kaki. Masih adakah IMAN di dalam diri kita ?? Masihkah hati kita bergetar ketika adzan berkumandang di masjid ?? Masihkah kita merasa bersalah ketika adzan dilantangkan sementara kita masih sibuk mengurusi urusan dunia ?? Baiklah, saya beri waktu kepada anda 1 menit untuk merenungi pertanyaan-pertanyaan saya tadi. OK, cukup ya!! Silahkan anda usap air mata anda dan lanjutkan membaca.


Kita bandingkan lagi, tidakkah kita melihat sekarang mall-mall ramai dikunjungi mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, bahkan ada yang anaknya belum bisa jalan sudah dibawa ke mall. Sementara masjid hanya ramai dikunjungi oleh orang-orang yang memasuki usia senja alias sudah pensiun. Indikasi jamaah bertambah masjid itu ada 2, ketika bulan ramadhan tiba dan ketika jumlah pensiunan bertambah he he. 


Anak muda yang menjadi generasi pelanjut justru kurang tertarik untuk datang ke masjid. Penyebabnya apa ?? Karena tidak ada voucher atau hadiah cash yang langsung bisa dicairkan ketika kita ke masjid. Perlu diakui bahwa mayoritas kita memang lebih suka dikasih langsung Rp. 50.000,- tunai dibanding 1 MILIAR tapi nanti. Namun saya yakin anda yang sedang membaca ini tidak demikian. Dijelaskan bahwa seandainya kita diperlihatkan berapa besar pahala ketika kita shalat berjamaah di masjid & berada di shaf pertama, saking besarnya pahalanya maka sekiranya masjid itu di seberang lautan kita akan berlomba-lomba berenang ke sana untuk berjamaah dan mendapatkan shaf pertama. Subhaanallah!!   


Kata anak muda zaman sekarang tidak gaul kalau kita tidak ke mall, saya bilang anda tidak gaul kalau tidak ke masjid. Mungkin anda bilang yah itu kan kamu yang bilang, ok ok.. Baca yang ini, kalau ini Allah yang bilang dalam kitabnya bahwa : “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43). Ayat tersebut menunjukkan perintah melaksanakan shalat bersama orang-orang yang melaksanakan shalat yaitu dengan berjama’ah di masjid. Sosok panutan kita, Baginda Rosul pun menegaskan bahwa ”Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lantas kenapa kita yang pria ini, yang ngakunya kuat, hebat, jagoan, ngakunya pria sejati, tapi kok berat untuk bangkit menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid. 


Potret lain yang juga berkaitan dengan masjid adalah kita lihat di beberapa mall di Indonesia yang pembangunannya sangat megah, ada eskalatornya, ada liftnya, toiletnya bersih, namun masjidnya dibangun di bawah dekat basement, miris!! Ingat, Indonesaia tercatat sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tapi rumah ibadah untuk umat muslimnya banyak yang tidak layak. Coba kita tengok negara tetangga kita Brunei Darussalam, yang luasnya hanya 5.770 Km² dan jumlah penduduknya hanya kurang lebih 408.000 jiwa. Namun yang spektakuler di Brunei Darussalam dimana mall-mallnya itu tidak semegah mall yang ada di Indonesia. Tapi masjid-masjidnya dibangun dengan megah, indah & bersih bahkan sampai di pelosok-pelosok pun masjidnya masih indah & bersih. Harusnya kita malu!!


Ada juga diantara kita yang bersikap marah ke pemilik mall kalau masjid di mall itu dibangunnya di basement, ukurannya kecil, toiletnya kotor. Loh, itu kan haknya dia, toh yang punya uang dia, yang punya mall dia. Kalau mau marah, yah bangun dong mall terus masjidnya itu dibuat semegah mungkin, kalau bisa lebih megah dibanding mallnya. Kalau kita marah, maka sebaiknya marah kita itu dikonversi kedalam tindakan positif.  Ayo kita umat muslim berjamaah membangun masjid yang megah, indah & bersih. Setelah kita bangun masjid, nah kita harus makmurkan masjidnya. Datangi masjid setiap sholat lima waktu, buat majelis dzikir di masjid, buat kajian-kajian ilmu di masjid, itu baru “marah positif”.


Bagi kita para pemuda harusnya sadar bahwa betapa  kita diistimewakan oleh Allah. Dijelaskan bahwa Allah akan memberikan Naungan-Nya di saat tidak ada lagi naungan kecuali dari-Nya kepada pemuda yang hatinya terpaut pada masjid. Dimana pun ia berada, sedang apapun ia beraktivitas, namun saat terdengar adzan, maka ia akan segera memenuhi panggilan tersebut.


Kenapa Allah memilih pemuda untuk diberikan Naungan-Nya, kenapa Allah tidak memilih orang tua saja. Karena di saat kita muda dimana tenaga kita lagi on fire, emosi kita kadang tidak stabil, pikiran kita kadang labil, lantas kita gunakan untuk senantiasa memakmurkan masjid maka disitulah ke-Istimewaan pemuda di hadapan Allah. Kalaulah orang tua, apalagi yang sudah pensiun lantas ia rajin ke masjid sholat 5 waktu & bermajelis itu wajar. Justru kalau mereka tidak ke masjid padahal sudah pensiun juga, nah ini yang kelewatan tidak tahu diri he he.


Saya ingin mengajak anda khususnya para pemuda untuk nge-fans ke MASJID bukan ke Real Madrid. 


Ayo kita makmurkan masjid, ayo kita bangun masjid yang megah, ayo kita penuhi masjid setiap waktu sholat, ayo jadi generasi pecinta masjid.


SAMPAI KETEMU DI MASJID !!


Wassalam..




By : Zulfakar S. Arif

Minggu, 09 Agustus 2015

KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??



KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??

Hari Jumat adalah hari yang istimewa bagi umat muslim dan pada saat itu pula saya memutuskan untuk berikrar bahwa saya dengan ikhlas mengizinkan diri saya untuk menjadi seorang penulis. Selang beberapa saat setelah saya memposting dokumentasi  ikrar saya di salah satu sosial media, maka salah seorang teman saya langsung menghubungi saya dan melontarkan pertanyaan seperti ini “kamu mau jadi penulis? kamu mau buat buku? jadi penulis kan tidak mudah?”, ini orang sekali bertanya langsung 3 pertanyaan, seandainya dia ngajuin 10 pertanyaan saya pasti anggap dia penyidik KPK he he he. Tapi saya tidak mau kalah, dengan spontan saya langsung jawab “skripsi aja saya bisa buat sendiri, masa buku tidak bisa” he he he. 

Jujur saja skripsi saya itu murni buatan saya sendiri, bukan hasil copy paste seperti yang biasa dilakukan sama teman-teman mahasiswa zaman sekarang. Saya yakin anda tidak termasuk kategori mahasiswa yang saya maksud he he. Tapi yang menarik dari kisah tentang skripsi saya itu adalah saya buatnya karena terjebak, yah boleh dikatakan terpaksa lah saya buat. Iya saya terpaksa karena memang awalnya saya punya niat untuk “meng-copas” skripsi yang sudah jadi juga, tapi ternyata setelah judul saya diterima oleh ketua jurusan ternyata skripsi yang saya akan copas tadi tidak ada alias hilang. Mungkin inilah yang dinamakan “The Power Of Kepepet”, saya terpaksa mengerjakannya karena judul sudah terlanjur diterima. Tapi ada baiknya juga karena saya dipaksa berpikir dan bergerak untuk menyelesaikan skripsi saya. Dan akhirnya saya selesai juga, dengan menyandang gelar sarjana ekonomi. 

Kisah di atas bukan point utama dalam tulisan saya kali ini, namun gara-gara jawaban spontan saya tadi itu justru membuat saya makin semangat untuk membuktikan bahwa saya juga bisa jadi penulis dan menerbitkan buku. Awalnya saya terinspirasi oleh mas Ippho Santosa yang mampu menulis beberapa buku dan semuanya berhasil menjadi best seller bahkan bukunya yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki” menjadi mega best seller. Dalam hati saya berkata “wah..mantap juga kayaknya nih kalau saya jadi penulis, bisa terkenal seperti mas Ippho Santosa”. Kalau kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, maka perlu kita ketahui  bahwa ketrampilan menulis merupakan indikasi kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar.  Menulis merupakan media atau wadah untuk mencatat/merekam sebuah peristiwa bersejarah dan memberikan sebuah informasi yang dapat mempengaruhi terwujudnya cita-cita bangsa.

Ali bin Abi Tahlib pernah berpesanKalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Inilah salah satu dasar yang membuat saya semakin termotivasi untuk menjadi penulis, meskipun bagi saya menulis adalah bukan hal yang baru. Iya soalnya dari SD sampai kuliah dulu sering banget menulis, iya menulis tugas-tugas dari guru dan dosen he he he. Seorang penulis tenaganya bersumber dari motivasi yang kuat, dari niatan yang tulus sehingga akan terus menerus memberikan energi kepada para pembacanya. Berikut saya akan menjelaskan 3 alasan utama kenapa saya dan anda harus menulis :


1.      Menulis Itu Membuat Kerang Pahala

 “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631). Hadits tersebut menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah ketika kita sudah meninggalkan dunia ini. Ilmu yang bermanfaat itu seperti apa? pokoknya semua ilmu yang bermanfaat tentu saja dalam hal positif maka dia akan menjadi amal jariyah buat kita. Kalau boleh meminjam istilahnya Robert Kiyosaki dalam bukunya “Cashflow Quadrant” maka ilmu yang bermanfaaat ini ibarat passive income. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Secara pribadi ini adalah alasan yang paling mendorong saya untuk menjadi penulis.

Karena saya menyadari bahwa jatah usia kita di dunia amatlah singkat. Perlu upaya yang ‘cerdas’ agar dengan jatah usia yang singkat dan terbatas alias limited ini dapat memberikan kontribusi yang bermakna, karena yang unlimited hanyalah kuota internet saja he he he. Nabi pun berpesan : dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda : Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Jadi jika ingin membuat “Kerang Pahala” untuk bekal akhirat kita, maka saya mengajak anda untuk ikut  menulis mulai hari ini, iya hari ini, tanpa tunggu tanpa nanti titik.


2.      Menulis Berarti Belajar Dan Membagi Ilmu Dengan Orang Lain
Semasa SD saya dan pastinya anda juga pernah mendapat tugas untuk mengarang oleh guru.  Saya sangat senang jika disuruh mengarang oleh guru, karena mengarang bagi saya adalah salah satu cara untuk belajar. Banyak hal yang kita pelajari atau alami menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan karena kita tuangkan dan mengolah menjadi tulisan. Pada saat kita menulis, berbagai ide dan gagasan yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami oleh orang lain dengan baik. Proses penyusunan ide-ide itu akan membawa kita pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi terhadap ide-ide tersebut.  Lalu kita harus belajar menyusun argumentasi untuk menopang ide kita tadi agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri kita sebagai pengarang itu sendiri. Untuk menyelesaikan sebuah tulisan baru maka kita harus memiliki banyak pengetahuan-pengetahuan baru pula terkait dengan tulisan yang akan kita buat. Dengan sendirinya maka kita akan dipaksa untuk selalu belajar, belajar dan belajar untuk menambah pengetahuan kita yang tentunya akan menunjang dalam penulisan kita.      
Di dalam Al Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 : Wahai Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “Luaskanlah tempat duduk “di dalam Majelis-majelis maka luaskanlah (untuk orang lain), Maka Allah SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian kerjakan". Saya sering dinasehati oleh orang tua saya untuk sering-sering berbagi kepada orang lain karena itu adalah sedekah bagi kita. Mungkin anda sering berbagi kepada teman, kerabat atau  tetangga anda. Namun umumnya yang kita berikan masih berupa makanan, uang atau yang sifatnya materi. Ternyata saya baru tahu bahwa berbagi ilmu itu merupakan amal jariyah yang tidak akan terputus meskipun kita telah meninggal dunia. Nah, kalau begitu alangkah ruginya jika semasa hidup kita tidak membagi ilmu kita kepada orang lain. Bayangkan saja kalau anda menerbitkan buku lalu buku tersebut dibaca oleh seribu orang misalnya, dari seribu orang tersebut ada 10% yang terinspirasi dan berubah karena tulisan anda, berarti ada seratus sumber atau "kerang pahala" untuk anda. Subhanallah. Oleh karena itu maka wajarlah kalau kita harus menulis dalam rangka berbagi ilmu dan menebar manfaat kepada orang lain.  Sekali lagi saya mengajak anda untuk menjadi penulis. Masa kita kalah sama anak TK yang belajar menulis he he he.  

3.     Menulis Mampu Merubah Dunia Dan Meninggalkan Jejak Bagi Orang-Orang Yang Kita Cintai
Kita semua tahu bahwa belajar adalah sesuatu yang utama dalam Islam. Segala sesuatu yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan sendirinya menjadi utama pula. Menulis bisa membantu memberikan suatu kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Beberapa tokoh besar yang pernah menulis bahkan mampu merubah dunia dengan tulisannya itu. Sebut saja Ibnu Sina yang dengan tulisan-tulisan tentang ilmu kedokterannya mampu merubah dunia kedokteran ke arah peradaban yang lebih bersinar. Tokoh muda saat ini Ippho Santosa yang mampu merubah mindset ratusan ribu bahkan jutaan orang melalui buku-bukunya yang sangat khas dengan otak kanan. Tidak inginkah kita juga merubah dunia ke arah peradaban yang lebih baik melalui tulisan-tulisan kita ? Mungkin dalam hati anda berkata,” wah bagaimana mau merubah dunia, merubah lingkungan daerah tempat tinggal saya saja sulit” maka saya pastikan anda adalah golongan otak kiri. Jangan tersinggung ya, daripada tersinggung lebih baik berubah, begitulah kata guru saya Ippho Santosa.    
Tidak ada cara yang lebih berkesan untuk menyatakan eksistensi kita selain dengan menulis. Dengan menulis kita dapat sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan yang paling penting meninggalkan jejak keberadaan kita untuk masa yang tak terhingga. Karenanya tidak salah kalau orang bilang, pena penulis bisa lebih tajam dari pedang para pejuang. Dan benar apa kata Gadamer, filsuf Jerman paling berpengaruh di abad ini: Tulisan adalah entitas yang hidup. Membaca tulisan sama dengan berdialog. Betapa bahagianya orang-orang yang kita cintai ketika kita meninggalkan mereka dengan “label positif”, kita akan terus dikenang, nama kita akan terus diingat, dan amal kita akan terus mengalir.
Sebagai kesimpulan dari tulisan saya kali ini, saya ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk ikut menulis agar bisa menginspirasi dan menebar manfaat kepada lebih banyak orang. Saya tertarik dengan kutipan seorang Guru Besar yang mengatakan bahwa : Siapa yang membaca akan mengetahui, dan siapa yang menulis tidak akan mati (Abu Hanifa).
AYO MENULIS!!