Ditulis oleh Zulfakar S. Arif
Berakhir sudah perjuangan #Timnas Indonesia untuk menjadi yang terkuat dalam ajang AFF Cup 2016. Setelah ditaklukkan oleh Thailand dalam final leg ke-2 yang berlangsung di stadion Raja Mangala tadi malam dengan skor 2-0. Berbagai komentar pun bermunculan dari berbagai kalangan. Banyak yang memberikan komentar positif, namun tidak sedikit juga yang memberikan komentar negatif bahkan 'menghujat'.
Sekelas Menteri, Ketua Lembaga Parlemen, para Tokoh bangsa, Wapres bahkan sampai Presiden pun turut memberikan komentar positif terhadap hasil perjuangan #Timnas. Terlepas dari mereka punya kekurangan ataupun kesalahan, namun saya yakin sumbangsih mereka terhadap bangsa ini lebih banyak ketimbang mereka yang suka 'nyinyir'. Periksa kembali rasa nasionalisme kita, masih adakah terpatri di hati kita.
Perhatikan baik-baik pernyataan dibawah ini:
- Pernahkah kita mengharumkan nama negara kita di kancah internasional? Jika belum, stop menghujat sana sini.
- Pernahkah kita meneteskan keringat dengan label Garuda sebagai identitas? Jika belum, stop nyinyir.
- Pernahkah kita ikut dalam kompetisi internasional sampai harus meninggalkan keluarga? Jika belum, stop mencaci.
Kalaupun kita sudah mengharumkan, meneteskan keringat & meninggakan keluarga demi nama bangsa Indonesia, maka tak perlu mengeluarkan bahasa yang 'mengucilkan' perjuangan #Timnas yang belum sesuai harapan kita.
Kita memang belum pernah merasakan 'mencium' Trophy bergengsi AFF Cup. Namun jangan berkecil hati kawan, toh negara sekelas Brazil, Jerman & Spanyol pun belum pernah merasakan nikmatnya mengangkat Trophy AFF Cup. Hehehe.
Apapun hasilnya #Timnas sudah berusaha dengan maksimal. #Timnas sudah membawa nama negara kita. Dan kami sadar bahwa tidak banyak orang yang diberi kesempatan membawa nama bangsa untuk berkompetisi di level internasional.
Ayo terus berbenah & berlatih lagi #Timnas ku. Kami bangga kepadamu :)
Sekian dari saya, Zulfakar S. Arif
Zulfakar
Membacalah maka anda akan mengetahui dunia. Menulislah maka dunia akan mengetahui siapa anda.
Sabtu, 17 Desember 2016
Kamis, 15 Desember 2016
Isi Kantong vs Isi Kepala
Ditulis oleh : Zulfakar S. Arif
Yayaya. Kayaknya judul yang saya tulis ini agak sensitif ya. Maklum, dominan kita kalau disinggung masalah 'kantong', yah raut wajahnya agak gimana gitu. Hehehe.
Saya punya salah satu kegemaran yakni membaca buku motivasi. Ya. Mo-ti-vas-si. Kenapa saya tidak suka novel? Karena saya bukan penggemar telenovela. Ya. Te-le-novel-a. Maksa banget ya kesannya. Ok. Kali ini saya tidak akan membahas mengenai telenovela seperti serial drama Marimar atau Amigos, karena saya lupa jalan ceritanya. Hehehe. Hentikan sejenak ketawa kecil Anda, karena kali ini saya agak serius. Halaahh, sok serius lebih tepatnya. Hemm.
Sukses. Ya, Sukses. Kata inilah yang selalu menjadi substansi atau inti dari materi para motivator, inspirator ataupun trainer dalam setiap penampilannya menjadi pembicara. Seluruh makhluk di dunia ini, bahkan makhluk di dunia lain pun tahu bahwa SUKSES itu butuh pengorbanan. Termasuk mengorbankan uang, tenaga, pikiran dan waktu.
Faktanya. Bahwa ada segelintir orang yang menyisihkan waktunya untuk istrahat. Ada segelintir orang yang menyisihkan uangnya untuk tabungan. Jelas bahwa itu tidak salah. Namun alangkah baiknya jika ditambah lagi dengan menyisihkan waktu kita untuk belajar. Menyisihkan uang kita untuk belajar. Jangan persempit pemahaman kita bahwa belajar hanya bisa dilakukan secara formal seperti di sekolah atau kampus.
Saat ini begitu banyak seminar-seminar yang diadakan dengan pembicara para 'pelaku' sukses. Saat ini banyak buku-buku yang berisi tentang ilmu kesuksesan. Dan saat ini tidak sedikit artikel yang bisa kita akses secara online dengan tema utama kesuksesan. Yang perlu kita pahami saat ini adalah bahwa dengan pembelajaran maka akan terjadi 'percepatan'. Ketika Anda mempelajari 'peta' Sukses dari orang yang telah teruji Sukses, maka itu akan mempercepat Anda mencapai kesuksesan. Yang saya maksud adalah kesuksesan secara global. Kita tidak boleh memaknai kesuksesan ke satu profesi atau satu bidang saja. Sekarang, perhatikan ini baik-baik.
- Adakah orang yang sukses jadi karyawan? Ada.
- Adakah orang yang sukses jadi pedagang? Banyak.
- Adakah orang yang sukses jadi musisi/seniman? Pastinya.
- Adakah orang yang sukses jadi dosen/guru besar? Tentu.
Maaf, karena saya tidak bisa menulis profesi-profesi Anda satu per-satu. Takut tidak muat halaman ini. Hehehe. Saya harap sudut pandang kita dalam memaknai kesuksesan sudah sama. Kalau belum sama, saya sarankan Anda mandi kembang di 7 sumur berbeda. Hehehe.
"Rp. 100.000 yang kita investasikan pada 'isi kepala' kita, bisa menghasilkan jutaan bahkan puluhan juta pada 'kantong' kita." Coba Anda ulangi secara perlahan sambil meresapi kalimat tadi. Baca lagi dan ulangi. Apakah Anda paham maksud kalimat tadi? Ya. Saya pikir Anda cukup paham maksud kalimat tadi. Ada yang nyelutuk begini, "emang bisa ratusan ribu jadi puluhan juta? Ini bukan money game kan? Ini bukan penggandaan uang kan?" Ada-ada saja. Saya kasih contoh konkrit ya. Kalau Anda menginvestasikan uang Anda Rp. 100.000 dengan membeli tiket seminar Ippho Santosa dan Anda langsung action-kan materi-materi dari beliau, maka pasti, pasti, dan pasti perubahan positif dalam hidup Anda akan terjadi. Pasti. Insya Allah.
Faktanya, banyak orang yang mengalokasikan uangnya ke penampilan, agar terlihat keren, agar terlihat kaya, padahal cuma mau gaya-gayaan. Bahwa kita harus menjaga penampilan, saya sepakat. Namun menjaga penampilan tidak harus berlebihan. Bahkan sampai ngutang. Ini sangat tidak dianjurkan. Iya kan? Karena agama saya pun melarang segala sesuatu yang berlebih-lebihan. Kecuali Amalan. Ya. Hanya Amalan.
Saya yakin Anda sudah mengerti inti dari tulisan saya kali ini. Kalaupun belum, maka izinkan saya menyimpulkannya khusus buat Anda pembaca setia saya. Ciee yang setia. Hehehe. Tarik nafas Anda dalam-dalam, lalu buang perlahan. Ulangi sebanyak 3 kali. Eits. Cukup, cukup. Saya harap Anda lebih relax dibanding sebelumnya. Sekarang, catat ini baik-baik.
"KEPALA KALAU DIISI, MAKA KANTONG PUN AKAN IKUT TERISI"
Cukup jelas kan. Pesan guru saya, Kejarlah ilmu meskipun harus berkorban materi, karena tidak ada orang berilmu yang fakir. Karena ILMU itu berarti CAHAYA. Orang yang berilmu pasti wajahnya akan bercahaya. Seperti Anda semua yang membaca tulisan saya ini pastinya. So, mari kita terus belajar, belajar dan belajar.
Sekian dari saya, Zulfakar S. Arif.
Sabtu, 22 Agustus 2015
Real Madrid vs Real MASJID
Real Madrid vs Real
MASJID
Real Madrid.. Real Madrid.. Siapa yang tidak
kenal dengan Real Madrid ?? Salah satu raksasa klub sepak bola dunia yang
bermarkas di kota Madrid, Spanyol ini memang sedang bersinar pada dua dekade terakhir ini. Bahkan ada yang ekstrim
sampai-sampai memberikan label “kampungan” kepada orang yang tidak mengenal
klub setenar Real Madrid, tapi bukan saya kok orangnya he he he. Klub yang bertabur bintang ini mengklaim memiliki fans
kurang lebih 450 juta orang yang tersebar di 186 negara, sebuah jumlah yang
sangat fantastis untuk ukuran sebuah fans club.
Wajar saja kalau para pemain bintang berlomba-lomba
untuk bermain di klub yang akrab dengan julukan Los Merengues, Los
Blancos dan Los
Galacticos ini. Nama-nama tenar seperti Raul Gonzales, Luis
Figo, Zinedane Zidane, Ronaldo Luis Nazario, Roberto Carlos, David Beckham, Mesut Ozil, Toni Kroos sampai Gareth Bale yang nota benenya pemain
termahal dunia merupakan
deretan nama yang pernah bermain dan masih
bermain sampai saat ini. Christiano Ronaldo yang mendapat predikat pemain terbaik dunia tahun 2008, 2013 dan 2014 ini menjadi icon bagi klub dengan sarat prestasi
tersebut.
Tidak keliru jika FIFA menempatkannya sebagai
klub paling sukses sepanjang abad ke-20, dengan 31 gelar Primera Liga Spanyol,
16 Piala Spanyol, 9 gelar Piala dan
Liga Champions, dan 2 trofi Piala
UEFA. Inilah yang
membuat beberapa klub menjadi ciut ketika ingin
berhadapan dengan Real Madrid.
Tapi tidak bagi
klub Barcelona yang menjadi rival abadi dari klub Real Madrid. Kenapa saya
katakan begitu, ya maklumlah saya kan fans Barcelona he he he.
Cukup..cukup, kita tinggalkan pembahasan tentang Real
Madrid, soalnya saya takut anda juga akan ikut jadi fansnya he he. Eh
ngomong-ngomong soal fans club, ini menjadi fenomena baru pada abad ini
khususnya di kalangan anak muda. Tidak hanya klub sepak bola yang memiliki fans
club, namun aktris, penyanyi, tokoh-tokoh bangsa pun memiliki basis fans
club. Mengidolakan seseorang itu tidak salah, namun sikap fanatisme yang
berlebihan itu yang tidak baik. Tidak jarang kita melihat anak muda yang sampai
terjun ke hal-hal yang negatif akibat mengidolakan figur atau sosok yang salah.
Mengidolakan sosok figur ini cenderung membawa kita untuk
mengikuti semua hal yang dilakukan oleh sosok figur tersebut. Tidak peduli yang
dilakukannya idolanya itu baik atau buruk, karena kita seolah-olah “disihir”
oleh sosoknya. Ingat, bahwa yang kita idolakan itu adalah manusia biasa yang
punya banyak kekurangan, maka sungguh tak pantas jika kita harus bersikap
fanatisme ke mereka. Kalau anda mau mengidolakan sosok figur, maka hanya
baginda Rosul Muhammad SAW. lah yang pantas untuk kita idolakan.
Rosulullah adalah tokoh central paling berpengaruh sepanjang sejarah perkembangan peradaban
manusia. Beliau adalah sang revolusioner yang mampu mengangkat umat manusia
dari zaman jahiliyah ke zaman humanis. Adakah yang lebih layak kita idolakan selain Baginda
Rosul Muhammad SAW ?? Beliau memiliki rekam jejak yang sangat istimewa, semua
lini dalam kehidupan beliau sangat layak kita tiru. Tercatat bahwa beliau
adalah ahli ibadah, ahli dalam berdagang, ahli dalam urusan diplomasi, piawai
dalam strategi perang dan dalam membina rumah tangga beliaulah sosok teladan
bagi kita semua. Maka tak salah kalau beliau menyandang predikat Rahmatan
Lil Aalamiin sebagai predikat tertinggi di dalam sejarah kehidupan manusia.
Tenang..tenang.. saya tidak akan membahas biografi
Baginda Rosul kali ini, karena saya bukan ahli sejarah Islam he he. Namun
bolehkah saya jujur kepada anda semua, kali ini saya sedang dilanda badai galau,
resah dan gundah. Ciee so sweet banget, hehe.. Tapi ini serius loh, lebih
tepatnya saya miris melihat fenomena yang terjadi di kalangan anak muda saat
ini. Apa itu ?? Saat ini anak muda lebih suka nonton bareng daripada sholat
bareng (berjamaah), anak muda lebih suka nongkrong berjam-jam di cafe daripada
nongkrong di masjid bermajelis. Kalau kata bang Haji Rhoma Irama “sungguh
terlalu”.
Kali ini saya ingin bertanya kepada anda, jawab yang
jujur ya.. “apakah anda sering ke mall berbelanja dan mendapat voucher belanja ??”
Jika iya maka dugaan saya benar. Iya benar, bahwa anda itu memang tukang
belanja he he. Berapa kali anda ke mall dalam seminggu ? Sudah berapa jumlah
uang yang anda keluarkan di mall ?? Cukup, tidak usah dijawab deh. Saya cuma
ingin katakan, kembalilah ke jalan yang benar saat ini juga!! Sudahlah jangan
tersinggung ya, mending lanjutkan membaca.
Coba kita bandingkan, berapa jam waktu yang kita habiskan
setiap kita ke mall ?? 2 jam kah, 3 jam kah atau bahkan lebih. Lalu berapa jam
waktu yang kita habiskan setiap kita ke masjid ?? tidak sampai 1 jam atau
bahkan tidak sampai setengah jam, sungguh miris!! Mall yang jauh di sana kita
bela-belain untuk datangi, masjid di belakang rumah kita terasa berat untuk
melangkahkan kaki. Masih adakah IMAN di dalam diri kita ?? Masihkah hati kita
bergetar ketika adzan berkumandang di masjid ?? Masihkah kita merasa bersalah
ketika adzan dilantangkan sementara kita masih sibuk mengurusi urusan dunia ??
Baiklah, saya beri waktu kepada anda 1 menit untuk merenungi
pertanyaan-pertanyaan saya tadi. OK, cukup ya!! Silahkan anda usap air mata
anda dan lanjutkan membaca.
Kita bandingkan lagi, tidakkah kita melihat sekarang
mall-mall ramai dikunjungi mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, bahkan
ada yang anaknya belum bisa jalan sudah dibawa ke mall. Sementara masjid hanya
ramai dikunjungi oleh orang-orang yang memasuki usia senja alias sudah pensiun.
Indikasi jamaah bertambah masjid itu ada 2, ketika bulan ramadhan tiba dan
ketika jumlah pensiunan bertambah he he.
Anak muda yang menjadi generasi pelanjut justru kurang
tertarik untuk datang ke masjid. Penyebabnya apa ?? Karena tidak ada voucher
atau hadiah cash yang langsung bisa dicairkan ketika kita ke masjid. Perlu
diakui bahwa mayoritas kita memang lebih suka dikasih langsung Rp. 50.000,- tunai
dibanding 1 MILIAR tapi nanti. Namun saya yakin anda yang sedang membaca ini
tidak demikian. Dijelaskan bahwa seandainya kita diperlihatkan berapa besar
pahala ketika kita shalat berjamaah di masjid & berada di shaf pertama, saking
besarnya pahalanya maka sekiranya masjid itu di seberang lautan kita akan
berlomba-lomba berenang ke sana untuk berjamaah dan mendapatkan shaf pertama. Subhaanallah!!
Kata anak muda zaman sekarang tidak gaul
kalau kita tidak ke mall, saya bilang anda tidak gaul kalau tidak ke masjid.
Mungkin anda bilang yah itu kan kamu yang bilang, ok ok.. Baca yang ini, kalau
ini Allah yang bilang dalam kitabnya bahwa : “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta
orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43). Ayat tersebut menunjukkan perintah melaksanakan shalat bersama
orang-orang yang melaksanakan shalat yaitu dengan berjama’ah di masjid. Sosok panutan kita, Baginda Rosul pun menegaskan bahwa ”Shalat
berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh
derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lantas kenapa kita yang pria ini, yang
ngakunya kuat, hebat, jagoan, ngakunya pria sejati, tapi kok berat untuk bangkit
menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid.
Potret lain yang juga berkaitan dengan masjid adalah kita
lihat di beberapa mall di Indonesia yang pembangunannya sangat megah, ada
eskalatornya, ada liftnya, toiletnya bersih, namun masjidnya dibangun di bawah
dekat basement, miris!! Ingat, Indonesaia tercatat sebagai negara berpenduduk
muslim terbesar di dunia, tapi rumah ibadah untuk umat muslimnya banyak yang
tidak layak. Coba kita tengok negara tetangga kita Brunei Darussalam, yang
luasnya hanya 5.770 Km² dan jumlah penduduknya hanya kurang lebih 408.000 jiwa.
Namun yang spektakuler di Brunei Darussalam dimana mall-mallnya itu tidak semegah
mall yang ada di Indonesia. Tapi masjid-masjidnya dibangun dengan megah, indah
& bersih bahkan sampai di pelosok-pelosok pun masjidnya masih indah &
bersih. Harusnya kita malu!!
Ada juga diantara kita yang bersikap marah ke pemilik
mall kalau masjid di mall itu dibangunnya di basement, ukurannya kecil, toiletnya
kotor. Loh, itu kan haknya dia, toh yang punya uang dia, yang punya mall dia.
Kalau mau marah, yah bangun dong mall terus masjidnya itu dibuat semegah
mungkin, kalau bisa lebih megah dibanding mallnya. Kalau kita marah, maka sebaiknya
marah kita itu dikonversi kedalam tindakan positif. Ayo kita umat muslim berjamaah membangun
masjid yang megah, indah & bersih. Setelah kita bangun masjid, nah kita
harus makmurkan masjidnya. Datangi masjid setiap sholat lima waktu, buat
majelis dzikir di masjid, buat kajian-kajian ilmu di masjid, itu baru “marah
positif”.
Bagi kita para pemuda harusnya
sadar bahwa betapa kita diistimewakan
oleh Allah. Dijelaskan bahwa Allah akan memberikan Naungan-Nya di saat tidak
ada lagi naungan kecuali dari-Nya kepada pemuda yang hatinya terpaut pada
masjid. Dimana pun ia berada, sedang apapun ia beraktivitas, namun saat
terdengar adzan, maka ia akan segera memenuhi panggilan tersebut.
Kenapa Allah memilih pemuda untuk diberikan Naungan-Nya, kenapa
Allah tidak memilih orang tua saja. Karena di saat kita muda dimana tenaga kita
lagi on fire, emosi kita kadang tidak stabil, pikiran kita kadang labil,
lantas kita gunakan untuk senantiasa memakmurkan masjid maka disitulah ke-Istimewaan
pemuda di hadapan Allah. Kalaulah orang tua, apalagi yang sudah pensiun lantas
ia rajin ke masjid sholat 5 waktu & bermajelis itu wajar. Justru kalau
mereka tidak ke masjid padahal sudah pensiun juga, nah ini yang kelewatan tidak
tahu diri he he.
Saya ingin mengajak anda khususnya para pemuda untuk
nge-fans ke MASJID bukan ke Real Madrid.
Ayo kita makmurkan masjid, ayo kita bangun masjid yang
megah, ayo kita penuhi masjid setiap waktu sholat, ayo jadi generasi pecinta
masjid.
SAMPAI KETEMU DI MASJID !!
Wassalam..
By : Zulfakar S. Arif
Minggu, 09 Agustus 2015
KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??
KENAPA SAYA DAN ANDA HARUS MENULIS ??
Hari Jumat adalah hari yang istimewa bagi umat muslim dan
pada saat itu pula saya memutuskan untuk berikrar bahwa saya dengan ikhlas
mengizinkan diri saya untuk menjadi seorang penulis. Selang beberapa saat
setelah saya memposting dokumentasi ikrar
saya di salah satu sosial media, maka salah seorang teman saya langsung
menghubungi saya dan melontarkan pertanyaan seperti ini “kamu mau jadi penulis?
kamu mau buat buku? jadi penulis kan tidak mudah?”, ini orang sekali bertanya
langsung 3 pertanyaan, seandainya dia ngajuin 10 pertanyaan saya pasti anggap
dia penyidik KPK he he he. Tapi saya tidak mau kalah, dengan spontan saya
langsung jawab “skripsi aja saya bisa buat sendiri, masa buku tidak bisa” he he
he.
Jujur saja skripsi saya itu murni buatan saya sendiri,
bukan hasil copy paste seperti yang biasa dilakukan sama teman-teman
mahasiswa zaman sekarang. Saya yakin anda tidak termasuk kategori mahasiswa
yang saya maksud he he. Tapi yang menarik dari kisah tentang skripsi saya itu
adalah saya buatnya karena terjebak, yah boleh dikatakan terpaksa lah saya
buat. Iya saya terpaksa karena memang awalnya saya punya niat untuk
“meng-copas” skripsi yang sudah jadi juga, tapi ternyata setelah judul saya
diterima oleh ketua jurusan ternyata skripsi yang saya akan copas tadi
tidak ada alias hilang. Mungkin inilah yang dinamakan “The Power Of Kepepet”,
saya terpaksa mengerjakannya karena judul sudah terlanjur diterima. Tapi ada
baiknya juga karena saya dipaksa berpikir dan bergerak untuk menyelesaikan
skripsi saya. Dan akhirnya saya selesai juga, dengan menyandang gelar sarjana
ekonomi.
Kisah di atas bukan point utama dalam tulisan saya kali
ini, namun gara-gara jawaban spontan saya tadi itu justru membuat saya makin
semangat untuk membuktikan bahwa saya juga bisa jadi penulis dan menerbitkan
buku. Awalnya saya terinspirasi oleh mas Ippho Santosa yang mampu menulis
beberapa buku dan semuanya berhasil menjadi best seller bahkan bukunya
yang berjudul “7 Keajaiban Rezeki” menjadi mega best seller. Dalam hati
saya berkata “wah..mantap juga kayaknya nih kalau saya jadi penulis, bisa
terkenal seperti mas Ippho Santosa”. Kalau kita melihat dari sudut pandang yang
lebih luas, maka perlu kita ketahui bahwa ketrampilan menulis merupakan indikasi
kemajuan sebuah bangsa yang terpelajar. Menulis merupakan media atau wadah
untuk mencatat/merekam sebuah peristiwa bersejarah dan memberikan sebuah
informasi yang dapat mempengaruhi terwujudnya cita-cita
bangsa.
Ali bin Abi Tahlib pernah berpesan “Kalau kamu bukan
anak raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Inilah salah
satu dasar yang membuat saya semakin termotivasi untuk menjadi penulis,
meskipun bagi saya menulis adalah bukan hal yang baru. Iya soalnya dari SD
sampai kuliah dulu sering banget menulis, iya menulis tugas-tugas dari guru dan
dosen he he he. Seorang penulis tenaganya bersumber dari motivasi
yang kuat, dari niatan yang tulus sehingga akan terus menerus memberikan energi kepada para pembacanya. Berikut saya akan menjelaskan 3 alasan utama kenapa saya dan
anda harus menulis :
1.
Menulis Itu Membuat Kerang Pahala
“Jika
seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara
yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”
(HR. Muslim no. 1631). Hadits tersebut menjelaskan
bahwa ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah ketika kita sudah
meninggalkan dunia ini. Ilmu yang bermanfaat itu seperti apa? pokoknya semua
ilmu yang bermanfaat tentu saja dalam hal positif maka dia akan menjadi amal
jariyah buat kita. Kalau boleh meminjam istilahnya Robert
Kiyosaki dalam bukunya “Cashflow
Quadrant” maka ilmu yang bermanfaaat ini ibarat passive
income. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk
dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Secara pribadi ini adalah alasan yang
paling mendorong saya untuk
menjadi penulis.
Karena saya menyadari bahwa jatah usia kita di dunia amatlah
singkat. Perlu upaya yang ‘cerdas’ agar dengan jatah usia yang singkat dan terbatas alias limited ini
dapat memberikan kontribusi yang bermakna, karena yang unlimited hanyalah kuota internet saja he he he. Nabi
pun berpesan : dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam
bersabda : Orang beriman itu bersikap
ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan
sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR.
Thabrani dan Daruquthni). Jadi jika ingin membuat “Kerang Pahala” untuk bekal akhirat kita, maka saya
mengajak anda untuk ikut menulis mulai
hari ini, iya hari ini, tanpa tunggu tanpa nanti titik.
2. Menulis Berarti Belajar Dan
Membagi Ilmu Dengan Orang Lain
Semasa SD saya dan pastinya anda juga pernah
mendapat tugas untuk mengarang oleh guru.
Saya sangat senang jika disuruh mengarang oleh guru, karena mengarang bagi saya adalah salah satu cara untuk belajar. Banyak hal yang kita pelajari atau alami menjadi
lebih kuat melekat dalam ingatan karena kita tuangkan dan mengolah menjadi tulisan. Pada saat kita menulis, berbagai ide dan gagasan
yang simpang siur harus mulai disusun secara sistematis agar dapat dipahami oleh orang lain dengan baik. Proses penyusunan ide-ide
itu akan membawa kita pada pengenalan akan ide-ide orang lain dan pendapat pribadi
terhadap ide-ide tersebut. Lalu kita harus belajar menyusun argumentasi
untuk menopang ide kita tadi agar masuk akal (rasional). Dengan demikian, keterampilan mengarang
sesungguhnya mengembangkan sikap rasional dalam diri kita sebagai pengarang itu sendiri. Untuk
menyelesaikan sebuah tulisan baru maka kita harus memiliki banyak
pengetahuan-pengetahuan baru pula terkait dengan tulisan yang akan kita buat.
Dengan sendirinya maka kita akan dipaksa untuk selalu belajar, belajar dan
belajar untuk menambah pengetahuan kita yang tentunya akan menunjang dalam
penulisan kita.
Di
dalam Al Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 : Wahai
Orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian “Luaskanlah tempat
duduk “di dalam Majelis-majelis maka luaskanlah (untuk orang lain), Maka Allah
SWT akan meluaskan Untuk kalian, dan apabila dikatakan “berdirilah kalian” maka
berdirilah, Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang
yang berilmu beberapa derajat, Allah maha mengetahui atas apa-apa yang kalian
kerjakan". Saya sering
dinasehati oleh orang tua saya untuk sering-sering berbagi kepada orang lain
karena itu adalah sedekah bagi kita. Mungkin anda sering berbagi kepada teman,
kerabat atau tetangga anda. Namun
umumnya yang kita berikan masih berupa makanan, uang atau yang sifatnya materi.
Ternyata saya baru tahu bahwa berbagi ilmu itu merupakan amal jariyah yang
tidak akan terputus meskipun kita telah meninggal dunia. Nah, kalau begitu
alangkah ruginya jika semasa hidup kita tidak membagi ilmu kita kepada orang
lain. Bayangkan saja kalau anda menerbitkan buku lalu buku tersebut dibaca oleh
seribu orang misalnya, dari seribu orang tersebut ada 10% yang terinspirasi dan
berubah karena tulisan anda, berarti ada seratus sumber atau "kerang pahala"
untuk anda. Subhanallah. Oleh karena itu maka wajarlah kalau kita harus menulis
dalam rangka berbagi ilmu dan menebar manfaat kepada orang lain. Sekali lagi saya mengajak anda untuk
menjadi penulis. Masa kita kalah sama anak TK yang belajar menulis he he he.
3.
Menulis Mampu Merubah
Dunia Dan Meninggalkan Jejak Bagi Orang-Orang Yang Kita Cintai
Kita
semua tahu bahwa belajar adalah sesuatu yang utama
dalam Islam. Segala sesuatu yang memudahkan kita dalam proses belajar dengan
sendirinya menjadi utama pula. Menulis bisa membantu memberikan suatu
kerangka yang bisa dipakai untuk memahami perspektif baru dan unik dari orang lain. Beberapa tokoh besar yang pernah menulis
bahkan mampu merubah dunia dengan tulisannya itu. Sebut saja Ibnu Sina
yang dengan tulisan-tulisan tentang ilmu kedokterannya mampu merubah dunia
kedokteran ke arah peradaban yang lebih bersinar. Tokoh muda saat ini Ippho
Santosa yang mampu merubah mindset ratusan ribu bahkan jutaan orang
melalui buku-bukunya yang sangat khas dengan otak kanan. Tidak inginkah
kita juga merubah dunia ke arah peradaban yang lebih baik melalui
tulisan-tulisan kita ? Mungkin dalam hati anda berkata,” wah bagaimana mau
merubah dunia, merubah lingkungan daerah tempat tinggal saya saja sulit” maka
saya pastikan anda adalah golongan otak kiri. Jangan tersinggung ya, daripada
tersinggung lebih baik berubah, begitulah kata guru saya Ippho Santosa.
Tidak
ada cara yang lebih berkesan untuk menyatakan eksistensi kita selain dengan
menulis. Dengan menulis kita dapat sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan yang paling penting meninggalkan jejak keberadaan kita untuk masa yang tak terhingga.
Karenanya tidak salah kalau orang bilang, pena penulis bisa lebih tajam dari
pedang para pejuang. Dan benar apa kata Gadamer, filsuf Jerman paling
berpengaruh di abad ini: Tulisan adalah entitas yang hidup. Membaca tulisan
sama dengan berdialog. Betapa bahagianya orang-orang yang kita cintai ketika
kita meninggalkan mereka dengan “label positif”, kita akan terus dikenang, nama
kita akan terus diingat, dan amal kita akan terus mengalir.
Sebagai
kesimpulan dari tulisan saya kali ini, saya ingin mengajak para pembaca yang
budiman untuk ikut menulis agar bisa menginspirasi dan menebar manfaat kepada
lebih banyak orang. Saya tertarik dengan kutipan seorang Guru Besar yang
mengatakan bahwa : Siapa yang membaca
akan mengetahui, dan siapa yang menulis tidak akan mati (Abu Hanifa).
AYO MENULIS!!
Langganan:
Komentar (Atom)